BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Berakhirnya kekuasaan khalifah Ali
bin Abi Thalib mengakibatkan lahirnya kekuasan yang berpola Dinasti atau
kerajaan. Pola kepemimpinan sebelumnya (khalifah Ali) yang masih menerapkan
pola keteladanan Nabi Muhammad, yaitu pemilihan khalifah dengan proses
musyawarah akan terasa berbeda ketika memasuki pola kepemimpinan dinasti-dinasti
yang berkembang sesudahnya.
Bentuk pemerintahan dinasti atau kerajaan yang cenderung bersifat kekuasaan foedal dan turun temurun, hanya untuk mempertahankan kekuasaan, adanya unsur otoriter, kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang dibumbui dengan tipu daya, dan hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah dalam menentukan pemimpin merupakan gambaran umum tentang kekuasaan dinasti sesudah khulafaur rasyidin.
Bentuk pemerintahan dinasti atau kerajaan yang cenderung bersifat kekuasaan foedal dan turun temurun, hanya untuk mempertahankan kekuasaan, adanya unsur otoriter, kekuasaan mutlak, kekerasan, diplomasi yang dibumbui dengan tipu daya, dan hilangnya keteladanan Nabi untuk musyawarah dalam menentukan pemimpin merupakan gambaran umum tentang kekuasaan dinasti sesudah khulafaur rasyidin.
Dinasti Umayyah merupakan kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Muawiyah Ibn Abi Sufyan. Perintisan dinasti ini dilakukannya dengan cara menolak pembai’atan terhadap khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian ia memilih berperang dan melakukan perdamaian dengan pihak Ali dengan strategi politik yang sangat menguntungkan baginya.
Jatuhnya Ali dan naiknya Muawiyah juga disebabkan keberhasilan pihak khawarij (kelompok yang membangkan dari Ali) membunuh khalifah Ali, meskipun kemudian tampuk kekuasaan dipegang oleh putranya Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan.
Pada akhirnya
Hasan menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah, namun dengan perjanjian bahwa
pemmilihan kepemimpinan sesudahnya adalah diserahkan kepada umat Islam. Perjanjian
tersebut dibuat pada tahun 661 M / 41 H dan dikenal dengan am jama’ah karena
perjanjian ini mempersatukan ummat Islam menjadi satu kepemimpinan, namun
secara tidak langsung mengubah pola pemerintahan menjadi kerajaan.
Meskipun begitu, munculnya Dinasti Umayyah memberikan babak baru dalam kemajuan.peradaban Islam, hal itu dibuktikan dengan sumbangan-sumbangannya dalam perluasan wilayah, kemajuan pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya.
Meskipun begitu, munculnya Dinasti Umayyah memberikan babak baru dalam kemajuan.peradaban Islam, hal itu dibuktikan dengan sumbangan-sumbangannya dalam perluasan wilayah, kemajuan pendidikan, kebudayaan dan lain sebagainya.
Dengan demikian pemakalah membahas
tentang gerakan politik dan keagamaan pad bani umayyah.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Dinamika
politik pada masa Umayyah
Pemerintah bani umayyah selalu dipenuhi dengan intrik-intrik politik,sejak
awal berkuasa sampai masa berakhirnya kekuasaan bani Umaiyyah. Intrik-intrik
politik politik yang dimaksud adalah[1] :
|
NO.
|
Masa
|
Intrik politik
|
|
1.
|
Masa umayyah
|
1. Peristiwa tahkim yang menghasilkan tiga golongan yaitu:
a. Sunni: muslim myang menerima suksesi muawiyyah dan serangkaian kholifah
sesudahnya. Mereka cenderung membatasai peran keagamaan kholifah dan lebih
mentolerir keterlibatannya dalam urusan politik.
b. Syiah : mereka yang bersikeras bahw Ali dan keturrunanya yang berhak
menjadi kholifah. Golongan ini cenderung menekankan fungsi keagamaan pada
seorang kholifah dan menyesalkan sistem kompromi politik.
c. Khawarij: seorang kholifah yang tidak harus keturunan dari sebuah
keluarga melainkan harus dipilih mayoritas komunitas muslim dan tetep
bertahan dalam jabatannya sepanjang ia menjalankan kekuasaannya secara benar
dan tidak melanggar.
2. Terjadinya amul jamaah antara hasan bin Ali ke muawiyyah para
pendukungnya (masyarakat arabia,irak dan iran) banyak mengancam tindakannya namun hasan mengatakan:
“saya tidak kerasan menyaksikan kalian
terbunuh karena memperebutkan kekuasaan. Mereka akan rela damai jika aku
ingin damai dan akan rela perang.
Tetapi hal terakir itu akan aku singkirkan oleh karena kash sayang akan darah
umat islam.
3.
Mengenalkan tradisi baru , pengertian
kgolifak ke anaknya. Meskipun hal ini ditentang oleh para sahabat seperti hasan bin alai , Abdulah Bin
Zubair, Abdullah Bin Abbas,Abdullah Bin Umar,Abdurrahman bin Abu Bakar.
4. Adanya tantangan dari khawarij.
|
|
2.
|
Masa yasid
|
1. Peristiwa karbala, yaitu terbunuhnya husain bin Ali yang
termasuk menolak membaiat Yasid sebagai Kholifah
2. Terjadinya peristiwa Harrah
(gurun utara madinahyang disebabkan ketidak mauan penduduk madinah membaiat yasid sehingga Yasid mengirimkan pasukan an menyerbu dari arah gurun harran)
3. Peristiwa pelimparan ka’bah dengan manjaniq (alat pelempar batu besar) dikarenakan adanya pemberontakan yang
dilakukan Abdullah Bin Zubair di Makkah
|
|
3.
|
Muawiah II
|
1. Munculnay fanatisme kesukuan antara bangsa abrab utara (kabilah qais)
yang mendukung pemerintah abdullah ibn zubair dan bangsa arab selatan
(kabilah qalb) yang mendukung kepemimpinanaya bani umayyah
|
|
4.
|
Marwan
|
1. Awal pemerintahannya terjadi perpecahan di arab selatan yang mendukung
bani umaiyyah ,
a. Menghendaki khalid ibn yasid ibn muawiyyah menjadi khalifah.
b. Menghendaki marwan menjadi khalifah yang kebutuhan menghasilkan
kesepakatan al jabiyah
2. Terdapat kelompok yang menentang Marwan dan wilayah yang melepaskan diri
|
|
5.
|
Abdul malik
|
1. Menunjukkan Abdullah bin zubair yang telah memploklamirkan sebagai
kholifah
2. Menumpas pemberontakan kaun syiah dan khowarij
|
|
6.
|
Sulaiman
|
Lebih banyak terjadi konflik internal dimana
sulaiman menyibukkan diri untuk berbalas dendam terhadap pihak yang dianggap
menentangnya.
|
|
7.
|
Yasid II
|
Terjadi pemberontakan yang dipimpin yasid
ibn Muhallab yang dituduh menggelapkan harta rampasan
|
|
8.
|
Hisyam
|
1. Terjadi pemberontakan yang dipimpin zaid bin Ali Zainal Abidin
2. Timbulnya tanatisme kesukuan di khurasan
3. Adanya serangan orang berber ,afrika utara yang tidak puas terhadap
perlakuan pemerintah yang diperkuat oleh golongan khawarij
4. Adanya serangan suku bangsa khahar ,diperbatas Azerbaijan dan Armenia
|
|
9.
|
Walid II
|
1. Memicu kenarahan rakyat karena termoral rendah, terbukti menggauli ibu tirinya
2. Terjadi kudeta yang dipimpin yasid III
|
|
10.
|
Yasid III
|
1. Pemberotakan penduduk Hins untuk membalas kematian al- Walid II
|
Dari
tabel diatas dapat
dipahami tentang dinamika perpolitikan bani umayyah selalu di warnai tarik ulur
kekuasaan. Akibatnya, sangat mudah terjadi pemberontakan baik itu atas nama
golongan keagamaan (seperti yang dilakukan khowarij dan syiah) atau atas nama
pribadi seperti perebutan hak ebagai khalifah.[2]
Bila ditelusuri intrik politik diatas
setidaknya disebabkan 2 hal yaitu:
1. Ketidakrelaan
atau ketidaklegawaan dalam menerima segala bentuk kosekwensi segala politik
yang ada.
2. Pelecehan atau
penghinaan terhadap golongah keagamaan ,status sosial
Bila ke-2 hal tidak dilakukan maka perpolitikan bani umayyah dapat
dikatakan stabil. Ini terbukti majur pada masa baini umar ke II ,masa yang
dianggap paling berhasil dalam merendam siituasi politik dalam negeri. Dia
bersifat legawa terhadap celaan yang diberikan dan dia sangat menghormati
golongan keagamaan dan kaum mawalli terbukti dia berhasil menghentikan celaan
terhadap Ali ,tokoh panutan Syiah.[3]
2.1.1
Kebijakan Pemerintahan
Setelah
Muawiyah menjadi khalifah Umat Islam, ia mulai menata pemerintahannya. Kebijakan
ini dilakukan untuk mengantipasi tindakan-tindakan yang timbul dari reaksi
pembentukan kekuasaanya.Khususnya dari kelompok yang tidak menyukainya.
Langkah
awal yang diambilnya adalah memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke
Damaskus. Hal ini dapat dimaklumi, karena jika dianalisa setidaknya ada 2
faktor yang menyebabkan Muawiyah mengambil langkah ini, yaitu karena di Madinah
sebagai pusat pemerintahan Khulafaurrasyidin sebelumnya, masih terdapat
sisa-siasa kelompok yang anti pati terhadapnya. Ini akan mengganggu stabilitas
kekuatannya, selain itu di Madinah dia kurang memiliki pengikut yang kuat dana
fanatik. Sedangkan di Damaskus pengaruhnya telah menciptakan nilai simpatik
masyarakat, basis kekuatannya cukup kuat.
Berikutnya
Muawiyah melakukan dan mengganti system khalifah menjadi system kerajaan. System
yang dilakukan berbasis baik secara sengaja ataupun tidak kepada nilai
kesukaaan dan kekeluargaan. Hal ini disebabkan dengan diberlakukannya perubahan
kepada system dinasti memberikan pengertian bahwa pemerintah akan bersifat
monarki, yang pergantian pemimpin dilakukan berdasarkan garis keturunan, dan
bukan atas dasar demokrasi yang sebagaimana terjadi di zaman sebelumnya.
Secara
personal, dalam menghadapi reaksi system yang di laksanakannya, memang Muawiyah
bersikap bijaksana, seperti yang di ungkapkan Shaban bahwa beliau merupakan
seorang pemimpin yang bijaksana, meskipun dalam menghadapi tekanan-tekanan
keras. Ia dapat menguasai dirinya dan mengambil tindakan (keputusan) secara
bijaksana. Ia melihat denagn seksama faktor apa penyebabnya dan mencari
alternatif, antara lain lewat perdamaian atau memperllakukan musuh dengan
keluhuran dan kebesaran.
Bila
diperhatikannya, secara historis Muawiyah memilki kepribadian yang luhur,
sehingga di tempatkan pada kedudukan yang terhormat baik pada masa rosululloh
maupun khulafaurrasyidin, namun jika di analisa silsilah dari Muawiyah,
memiliki nilai politik keluarga, keturunan Umayah. Terlepas dari nilai-nilai di
atas, system yang diterpakan Muawiyah di dalam pemerintahannya berimplikasi
negatif pada umat secara umum, khususnya masyarakat Non Arab. Hal ini
disebabkan akan tertanamnya bibit perpecahan di kalangan umat, apabila jika
terlihat dari pemerintahan pasca Muawiyah, sebagaimana yang digambarakan oleh
Ibnu Kaldun seperti dikutip Ahmed bahwa pengaruh politik dari sistem kesukuan
dan kekeluargaan ini berdampak negatif yaitu terpecahnya umat.
Dengan
modal monarci absolut, yang berhak menjadi khalifah adalah putera mahkota
ataupun putera saudaranya. Jika tidak ada anak laki-laki, maka yang di angkat
adalah anak perempuan mereka yang tertua, ini menunjukkan ketertutupannya
peluang bagi keturunan lain di luar keturunan Umayah. Terlihat dari timbulnya
persaingan di kalangan keluarga kerajaan (putera-putera mereka) untuk saling
merebut kursi pemerintahan yang sering kali menimbulkan
pertentangan-pertentangan yang akhirnya membuat konflik berdarah atau kudeta.
Bila hal ini terjadi maka rakyatlah yang akan lebih menderita, di sisi lain
perpecahanpun tak terelakan lagi. Model pemerintahan yang ditetapkan Muawiyah
ini banyak di ambil model pemerintahan Byzantium. Ini dadapat di maklumi bila
dilihat, secara historis siria ( syuri’ah) pernah di kuasai Byzantium selama
kurang lebih 500 tahun sampai kedatangan islam. Sedangkan Damaskus yang terjadi
pusat pemerintahan Syiria ketika pernah dikuasai Byzantium.Rentetan
pemerintahan ini setidaknya ikut mewarnai corak atau model pemerintahan
Muawiyah yang mendirikan dinasti Umayah.[4]
Aspek
politik yang terlihat dari pemerintahannya Muawiyah adalah meluasnya kekuasaan
islam. Upaya yang diambil dan dilakukan Muawiyah terlepas dari nilai negatif,
setidaknya merupakan langkah baru dalam rangkaian penataan masyarakat islam
yang lebih teratur, baik stuktur pemerintahan, politik keagamaan, social
kemasyarakatan, dan perluasan wilayah pemerintahan.
2.1.2
Bidang Administrasi
Sejak
kursi kekhalifahan berpindah dari Hasan ibn Ali ke tangan Muawiyah, Muawiyah
langsung melakukan berbagai macam langkah strategis guna meningkatkan dan melancarkan
tata administrasi Negara.Langkah-langkah ini cukup berbeda di banding dengan
pengelolaan administrasi sebelumnya.
Upaya tersebut dapat dilihat pada
bagian berikut.
1.
Ibu
kota umat islam dipindahkan ke kota Damaskus. Pemindahan ini bisa dipahami karena
basis kekuatan Muawiyah berpusat di wilayah itu. Pemindahan ini diharapkan
Damaskus mampu mengontrol propinsi-propinsi lain yang ada di bawahnya.
2.
Penggabungan
beberapa propinsi, sehingga propinsi yang semulanya berjumlah delapan buah
dapat diminimalisir menjadi lima buah. Adapun belanja setiap daerah di bebankan
kepada daerah masing-masing yang diperoleh dari berbagai sumber yang termasuk
pajak dan surplus keuangan daerah
dikirimkan ke pusat.
3.
Pembentukan
jabatan wasir. Wazir ini dimaksudkan untuk membantu khalifah dalam melaksanakan
tugas dalam administrasi pemerintahan. Jabatan wasir ini kemudian menjadi
tradisi bagi khalifah-khalifah sesudahnya, juga sampai ke dinasti-dinasti
sesudahnya.
4.
Pembentukan
semacam petugas protokoler. Mengawal dan menyeleksi tamu yang akan berurusan
dengan khalifah merupakan tugas utama dari bagian ini.
Selain membentuk dan melakukan
perubahan-perubahan di atas, Muawiyah juga melengkapi struktur pemerintahan
lainnya maka muawiyah menyusun beberapa diwan (departemen).Diwan-diwan ini
sedianya sudah ada sejak zaman Umar ibn al-Khathtab, tetapi karena kebutuhan
yang berbeda karena perbedaan zaman, maka ada perubahan-perubahan dilakukan dan
diwan-diwan tersebut adalah sebagai berikut.[5]
1.
Diwan al-Jund. Diwan ini
bagian mengurusi ketentaraan. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa angkatan
bersenjata di masa ini sudah mengalami banyak kemajuan, dari segi strategisnya
mengikuti pola Persia dan Bizantium, di mana pasukan dikelompokkan kepada
Farsan (pasukan berkuda) , Rajil (pasukan in vantri), dan Ramat (pasukan
pemanah). Di kota-kota besar didirikan markas komando dan setiap markas
dilengkapi dengan barak-barak asrama, dan di pusat-pusat militer dibangun pula
gedung logistik kemiliteran.
2.
Diwan al-Kharaj. Diwan ini
bertugas untuk mengurus masalah perpajakan yang dibentuk di setiap propinsi dan
dipimpin oleh Shahib al-kharaj serta
bertanggung jawab langsung kepada khalifah. Karena itu diwan al-kharaj ini sangat penting eksistensi akhirnya dalam
kaitannya dengan administrasi keuangan Negara.
3.
Diwan al-rasail wa al-kitabah. Diwan
ini bertugas menangani berbagai surat dari berbagai wilayah islam atau surat
kholifah kepada paraa pejabat didaerah. Karena bagian ini penting ,maka para
pekerjanya diambil dari orang kepercayaan terutama berasal dari keluarga
kholifah. Dalam ketata negaran modern,dewan ini mirip dengan sekretariat Negara
sekarang.
4.
Diwan al –khatam. Diwan ini
bertugas meregister dan mendokumentasikan arsip surat kholifah atau dokumen
penting lainnya. Pada masa Abdul Malik Ibn Marwan diwan ini berkembang menjadi
Negara yang berpusat di Damaskus. Karena Damaskus menjadi ibu kota dinasti
Umayyah.
5.
Diwan al- Barid. Diwan ini sama
dengan dinas pos saat ini tetapi pada masa na berikutnya bagian ini berkembang
sesuai kebutuhan.
Dizaman, Abd al-Malik, ia
menjalankan kebijakan arabisasi. Ada dua praktik
dari program ini ,pertama,ia menjadikan bahasa Arab sebagi bahasa
resmi.,kedua,ia mengganti uang bizantium dengan uang arab. Dengan adanya kebijaksanaan ini maka
terjadilah perubahan besar-besaran dalam administrasi pemrtintahan. J.J Saundres
mencatat bahwa progam ini telah berhasil dilaksanakan di irak tahun 697
M,disyuriah tahun 700 dan di mesir tahun 705 M. Kebijaksanaan ini memberikan
peluang yang besarbagi orang arab untuk menggambil alih pekerjaan – pekerjaan
administrasi perkantoran yang selama ini dimonopoli oleh orang-orang
nasrani,dengan system administrasi peninggalan bizantium dan Persia.[6]
Watt juga menyebutkan bahwa
kwbijakan Abd al- Malik ini telah menyebabkan banyak pekerja yang kawatir akan
dicopot dari jabatan atau kehilanagan pekerjaan karena itu kemudian mereka
masuk islam.
Sedangkan dalam kaitannya dengan
pergantian mata uang agaknya orang arb kelihatannya sudah terbiasa dengan uang
bizantiun dan Persia yang beredar sebelumnay. Mata uang tesebut ditarik dan
digantikan oleh mata uang baru mencantumkan kalimat-kalimat arab dan
bernafaskan islam pada masa Abdul Malik. Mata uang itu dibuat dari dua jenis
logam dinar ,emas,dandirham perak. Nilai tukar ditetapkan 10 atau 12 dirham
untuk 1 dinar,tetapi sebenarnya sangat tergantung pada fluktuasi pasar sesuai kondisi
setempat. Hal ini semakin memantabkan program arabisasi yang dijalankan oleh
Abd al- Malik.[7]
2.1.3
Bidang Kemiliteran
Pada masa pemerintahan Dinasti
Umayyah, perkembangan militer bangsa Arab telah mencapai kemajuan yang
signifikan. Dalam peperangan dengan tentara Bizantium, bangsa Arab
sekaligus mempelajari kelebihan metode militer Romawi dan menggunakannya
sebagai model mereka.
Sebagai organisator militer,
Mu’awiyah adalah yang paling unggul di antara rekan-rekan sezamannya. Ia
mencetak bahan mentah yang terdiri atas pasukan Suriah menjadi satu kekuatan
militer Islam yang terorganisir dan berdisiplin tinggi. Ia menghapus sistem
militer yang didasarkan atas organisasi kesukuan.
Mu’awiyah melaksanakan perubahan
besar dan menonjol di dalam pemerintahannya dengan mengandalkan angkatan
daratnya yang kuat dan efisien. Dia dapat mengandalkan pasukan orang-orang
Suriah yang taat dan setia, yang tetap berdiri di sampingnya walau dalam
keadaan yang berbahaya sekalipun. Dengan bantuan pasukan ini, Mu’awiyah
berupaya mendirikan pemerintahan yang stabil.
Pos-pos pemeriksaan di berbagai
benteng orang Islam, didirikan pada posisi-posisi yang strategis, di
persimpangan jalur militer atau di jalan masuk lembah yang sempit. Pos militer
dan daerah sekitarnya itu disebut ’awashim. Namun, dalam pengertian yang lebih
sempit, ’awashim merupakan jalur perbatasan bagian dalam, terletak di sebelah
Selatan, sepanjang pertahanan yang dijaga satu unit pasukan.[8]
Tentara Umayyah secara umum
dirancang mengikuti struktur organisasi Tentara Bizantium. Kesatuannya dibagi
ke dalam lima kelompok, yaitu tengah, dua sayap, depan dan belakang. Formasi
semacam ini terus digunakan hingga masa khlalifah terakhir, Marwan bin Muhammad
(744-M-750-M), yang memperkenalkan satu unit pasukan baru yang disebut dengan kurdus
(legiun).
Secara umum, ekspansi yang dilakukan
pemerintahan Dinasti Umayyah berhasil melakukan penaklukan yang meliputi tiga
wilayah. Pertama, melawan pasukan Romawi di Asia Kecil. Penaklukan ini
sampai dengan pengepungan Konstantinopel dan beberapa kepulauan di Laut Tengah.
Kedua, wilayah Afrika Utara. Penaklukan ini sampai ke Samudera Atlantik
dan menyeberang ke Gunung Thariq hingga ke Spanyol. Ketiga, wilayah
Timur. Penaklukan ini sampai ke sebelah Timur Irak. Kemudian meluas ke wilayah
Turkistan di Utara, serta ke wilayah Sindh di bagian Selatan. Ekspansi ini
dalam rangka memperluas wilayah kekuasaan yang merupakan lanjutan dari ekspansi
yang dilakukan oleh para pemimpin Islam sebelumnya.
Mu’awiyah berhasil menaklukkan
Tunis, Khurasan sampai ke sungai Oxus serta Afganistan sampai ke Kabul, dan
angkatan lautnya melakukan serangan-serangan ke ibu kota Bizantium,
Konstantinopel. Ekspansi ini selanjutnya dilakukan oleh Khalifah Abd al-Malik.
Ia berhasil menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Fergana dan Samarkand.
Pasukannya juga sampai ke India dan dapat menguasai Balukhistan, Sind dan
daerah Punjab sampai ke Maltan.
Di samping itu, Walid bin Abd
al-Malik adalah khalifah yang berhasil menundukkan Maroko dan Aljazair. Dari
kota ini, ekspansi diteruskan ke Eropa yang dipimpin oleh Thariq bin Ziyad,
hingga mampu mengalahkan Tentara Spanyol. Pada zaman Umar bin Abd al-’Aziz
serangan dilakukan ke Perancis yang dipimpin oleh Abd ar-Rahman bin Abdullah
al-Gafiqi. Di Perancis, umat Islam berhasil menundukkan Bordeau dan Poitiers.
Selanjutnya serangan diteruskan untuk menundukkan kota Tours. Namun al-Gafiqi
mati terbunuh, akhirnya tentara Islam mundur dan kembali ke Spanyol.
Di Afrika, pasukan Dinasti Umayyah
berhasil menaklukkan Benzarat pada tahun 41 H / 661 M. Qamuniyah (dekat
Qayrawan), Susat juga ditaklukkan pada tahun yang sama. Uqbah bin Nafi berhasil
menaklukkan Mogadishu, Sirt dan Tharablis, dan Wadan. Kota Qaryawan dibangun
pada tahun 50 H / 670 M. Sementara itu, Kur yang merupakan sebuah wilayah di
Sudan berhasil pula ditaklukkan. Akhirnya penaklukkan ini sampai ke wilayah
Maghrib Tengah (Al-Jazair). Uqbah bin Nafi adalah komandan yang paling terkenal
di kawasan ini.
Penaklukkan meluas ke kawasan Timur
(negeri Asia Tengah dan Sindh). Negeri-negeri Asia Tengah meliputi kawasan yang
berada di antara sungai Sayhun dan Jayhun. Di antara kerajaan yang paling
penting adalah Thakharistan dengan ibukotanya Balkh, Shafaniyan dengan ibukota
Syawman, Shagdad dengan ibukota Samarkand dan Bukhari, Farghanah dengan ibukota
Jahandah, Khawarizm dengan ibukota Jurjaniyah, Asyrusanah dengan ibukota
Banjakat, Syasy dengan ibukota Bankats. Pasukan Dinasti Umayyah menyerang Asia
Tengah pada tahun 41 H / 661 M.
Pada tahun 43 H / 663 M, pasukan ini
dapat menaklukkan Sajistan dan sebagian wilayah Thakharistan pada tahun 44 H /
665 M. Mereka sampai ke wilayah Quhistan. Pada tahun 44 H / 664 M, pasukan
Dinasti Umayyah menyerang wilayah Sindh dan India. Penduduk di tempat itu
senantiasa melaksanakan pemberontakan sehingga membuat kawasan ini selamanya
tidak stabil, kecuali pada masa pemerintahan Walid bin Abd al-Malik.[9]
2.2
Perkembangan Gerakan Keagamaan pada Masa Bani Umayyah
Pada masa Dinasti Umayyah, terdapat cikal bakal
gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha menggoyahkan fondasi Islam.
Hal ini ditandai pada paruh pertama abad ke-8, di Bashrah hidup seorang tokoh
terkenal bernama Washil bin ‘Atha (wafat tahun 748-M), seorang pendiri mazhab
rasionalisme kondang yang disebut Mu’tazilah. Orang Mu’tazilah (pembelot,penentang)
memperoleh sebutan itu, karena mendakwahkan ajaran bahwa siapa pun yang
melakukan dosa besar (kabirah) dianggap telah
keluar dari barisan orang beriman, tapi tidak menjadikannya kafir. Dalam hal
ini, orang semacam itu berada dalam kondisi pertengahan antara kedua status
itu. Washil pernah belajar kepada Hasan al-Bashri, yang cenderung pada doktrin
kebebasan berkehendak (free will), yang kemudian menjadi doktrin utama
dalam sistem keyakinan orang Mu’tazilah. Doktrin tersebut pada saat itu dianut
oleh kelompok Qadariyah (dari kata qadar = kuasa), yang
dibedakan dari kelompok Jabariyah (dari kata jabr = paksaan). Orang
Qadariyah merepresentasikan penentangan terhadap konsep takdir yang ketat dalam
Islam, kekuasaan Tuhan yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an,dan pengaruh
Yunani Kristen . Orang qodariyah adalah mazhab filsafat islam paling
awal, dan besarnya pengaruh pemikiran mereka bisa disimpulkan dari kenyataan
bahwa dua kholifah umaiyyah , muawiyah II, dan yazid III, merupakan pengikud
qodariyah.[10] Di samping itu, tumbuhnya gagasan dan pemikiran
filosofis Arab pada waktu itu, tidak terlepas dari pengaruh tradisi Kristen dan
filsafat Yunani. Salah satu agen utama yang memperkenalkan Islam dengan tradisi
Kristen dan pemikiran Yunani pada masa itu adalah St. John (Santo Yahya) dari
Damaskus (Joannes Damascenus), yang dijuluki Chrysorrhoas (lidah emas), karena
saat tinggal di Antokia ia dikenal dengan nama Chrysostom. Meskipun menulis
dalam bahasa Yunani, John bukanlah orang Yunani, tapi orang Suriah yang
berbahasa Aramaik di tempat tinggalnya dan, di samping dua bahasa itu, juga
bisa berbahasa Arab.[11]
Selain
Mu’tazilah, sekte keagamaan lain yang tumbuh berkembang pada masa ini adalah
kelompok Khawarij. Pada awalnya kelompok ini adalah pendukung setia Khalifah
‘Ali bin Abi Thalib, namun pada perkembangannya menjadi penentang Khalifah ‘Ali
bin Abi Thalib yang paling berbahaya,Ini terjadi
karena mereka menolak hasil perundingan antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan
Mu’awiyah, mereka melakukan pemberontakan dan melakukan kerusakan di muka
bumi.Kelompok Khawarij merupakan orang-orang yang keras kepala dan menginginkan
manusia hanya ada dalam dua kubu, yaitu kafir dan mukmin. Barang siapa
yang sesuai dengan pandangannya, dianggap sebagai orang mukmin.Sebaliknya, barang
siapa yang dianggap tidak sesuai dengan pandangannya, dianggap sebagai orang
kafir.
Sekte lain yang muncul pada masa Dinasti Umayyah adalah Murji’ah, yang
mengusung doktrin irja’, yaitu penangguhan hukuman terhadap orang beriman yang
melakukan dosa, dan mereka tetap dianggap muslim. Menurut Murji’ah, kenyataan
bahwa Dinasti Umayyah adalah orang Islam sudah cukup menjadi pembenaran bahwa
mereka merupakan pemimpin umat. Secara umum, ajaran pokok Murji’ah
berkisar pada toleransi. Di antara gagasan pemikiran Murji’ah yang terpenting
adalah bahwa mukmin yang melakukan maksiat akan disiksa oleh Allah di akhirat
nanti, dan setelah disiksa akan ditempatkan di surga.
Kelompok lainnya adalah Syi’ah. Kegigihan kelompok Syi’ah dengan keyakinan
utamanya terhadap Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan putra-putranya, yang diklaim
sebagai imam sejati, masih tetap menjadi karakteristik utama kelompok
ini.Kelompok ini lahir setelah gagalnya perundingan damai antara Khalifah ‘Ali
bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Dari peristiwa ini pengikut
setia Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib menganut suatu aliran dalam Islam yang
disebut dengan Syi’ah.Kelompok ini meyakini Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib
beserta para keturunannya adalah pemimpin umat Islam setelah wafatnya
Rasulullah SAW.[12]
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dinasti Umayyah adalah dinasti yang sistem pemerintahanya mengadopsi
sistem pemerintahan asing. Dari uraian makalah diatas kiranya dapat disimpulkan
beberapa macam kesimpulan :
·
Umaayyah adalah daulah yang pertama
kali memperkenalkan system administrasi barat dalam dunia pemerintahan Islam.
·
Umayyah adalah daulah yang pertama
kali memperkenalkan monarki Heridetis yang sebenarnya tidak dikenal dalam
Islam.
·
Umayyah adalah pemerintahan yang
menggunakan peperangan dalam merebut kekuasaan dari orang lain.
·
Pada masa Umayyah Islam teersebar
sampai ke Eropa seperti: Spanyol, Barcelona, Seville, Malaga, Elvira dan
Cordova (keterangan mengenai ini tidak secara jelas diterangkan dalam
pembahasan) Sisi lain dari kebrurukan sistem pemerintahan monarki heridetis
adalah sistem pemerintahan itu tidak menimbulkan banyak korban meninggal dalam
setiap pergantian khlaifah. Seperti pada masa Ali dan Muawiyah.Akhirnya kitalah
yang harus bercermin dari pemerintahan yang tinggal menjadi sejarah tersebut,
karena memang kegunaan dari mempelajari sejarah adalah sebagai cerminan bagi
perjalan kita bagi masa lalu. Meminjam kata-kata Pramoedya Ananta Toer “Kita harus
sudah adil sejak dalam pikiran”. Kita harus adil karena kita semua pasti
menjadi pemimpin walau bagi diri sendiri, dan syarat
utama bagi pemimpin adalah adil, karena keadilanlah yang akan membawa kita pada
kemakmuran dan kesejahteraan.
DAFTAR PUSTAKA
Istianah
Abu Bakar,
Sejarah Peradapan Islam Untuk Prguruan Tinggi Islam Dan Umum,
Malang:UIN Malang Press, 2008.
Fu’adi Imam, sejarah peradapan islam,(yogyakarta):teras, 2011.
Philip K. Hitti,Histury
of The Arabs,from The Earliest Times to The Present,Jakarta:PT.Ikrar Mandiri Abadi,2006.
http://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/03/12/perkembangan-dan-keruntuhan-dinasti-umayyah-1/, diakses pada
tanggal 21-10-2012, pukul 14.10 wib
[1] Abubakar
Istianah, Sejarah Peradapan Islam Untuk Prguruan Tinggi Islam Dan
Umum (Malang:UIN Malang Press), 2008,hal 55-58.
[2] Abubakar
Istianah, Sejarah Peradapan Islam Untuk Prguruan Tinggi Islam Dan
Umum (Malang:UIN Malang Press), 2008,hal 55-58.
[3]Abubakar
Istianah, Sejarah Peradapan Islam Untuk Prguruan Tinggi Islam Dan
Umum (Malang:UIN Malang Press), 2008,hal 55-58.
[7]Imam fu’adi, sejarah peradapan islam, (yogyakarta):teras,2011,
(hlm .82-86).
[8] http://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/03/12/perkembangan-dan-keruntuhan-dinasti-umayyah-1/, diakses pada tanggal 04-01-2013, pukul 21.10 wib.
[9] http://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/03/12/perkembangan-dan-keruntuhan-dinasti-umayyah-1/, diakses pada tanggal 04-01-2013, pukul 21.10 wib.
[10]Philip K. Hitti,Histury of The
Arabs,from The Earliest Times to The Present,(Jakarta:PT.Ikrar
Mandiri Abadi,2006),hlm.306
[11]http://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/03/12/perkembangan-dan-keruntuhan-dinasti-umayyah-1/, diakses pada tanggal 21-10-2012,
pukul 14.10 wib.
[12]http://aagun74alqabas.wordpress.com/2011/03/12/perkembangan-dan-keruntuhan-dinasti-umayyah-1/,diakses pada tanggal 21-10-2012, pukul
14.10 wib.
No comments:
Post a Comment