A.
Latar Belakang
Ketika Nabi Muhammad SAW lahir (570 M). mekah adalah kota
yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab. Baik karena tradisinya maupun karena
letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan
yaman diselatan dan siria di utara.dengan adanya kabah ditengah kota. Mekah
menjadi pusat keagamaan arab. Kabah adalah tempat mereka berziarah. Didalamnya
terdapat 360 berhala. Mengelilingi berhala utama. Hubal.mekah kelihatan makmur dan
kuat. Agama dan masyarakat arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan
masyarakat jazirah arab dengan luas satu juta mil persegi.
Biasanya dalam membicarakan wilayah geografis yang
didiami bangsa arab sebelum islam,orang membatasi pembicaraan hanya pada
jazirah arab. Padahal bangsa arab juga mendiami daerah-daerah disekitar
jazirah. Jazirah arab memang merupakan kediaman mayoritas bangsa arab kala itu.
Dunia arab ketika itu merupakan kancah peperangan terus
menerus . pada sisi yang lain meskipun masyarakat badui mempunyai pemimpin
namun merreka hanya tunduk kepada syeikh atau amir(ketua kabilah)itu dalam hal
yang berkaitan dengan peperangan, pembagian harta rampasan dan pertempuran
tertentu. Diluar itu ,syeikh atau amir tidak kuasa mengatur anggota kabilahnya.
Akibat peperangan yang terus menerus ,kebudayaan mereka
tidak berkembang. Oleh Karen itu kami mencoba membuat makalah ini, yang
membahsa mengenai bangsa Arab.
A.
Kondisi Sosial
Di kalangan
bangsa Arab terdapat beberapa kelas masyarakat, yang kondisinnya berbeda antara
yang satu dengan yang lainnya. Hubungan seseorang dengan keluarga di kalangan
bangsawan sangat diunggulkan dan diprioritaskan, dihormati dan dijaga sekalipun
harus dengan pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Jika seseorang
ingin dipuji dan menjadi terpandang di mata bangsa Arab karna kemulyaan dan
keberaniannya, maka dia harus banyak dibicarakan kaum wanita.
Mereka sangat menekankan hubungan kesukuan sehingga kesetiaan atau
solidaritas kelompok menjadi sumber kekuatan bagi suatu kabilah atau suku.
Mereka suka berperang. Karena itu, peperangan antar suku sering sekali terjadi.[1]
Begitulah
gambaran secara ringkas kelas masyarakat bangsawan. Sedangkan kelas masyarakat
lainnya beraneka ragam dan mempunyai kebebasan hubungan antara laki-laki dan
wanita. Abu Daud meriwayatkan dari
Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa pernikahan pada masa Jahiliyah ada empat macam
:
1.
Pernikahan secara spontan. Seorang laki-laki mengajukan lamaran
kepada laki-laki lain yang menjadi wali wanita, lalu bisa menikahinya setelah
menyerahkan seketika itu pula.
2.
Seorang laki-laki bisa berkata kepada istrinya yang baru suci dari
haid, “temuilah Fulan dan berkumpullah dengannya!” suaminnya tidak
mengumpulinnya dan sama sekali tidak menyentuhnya, hingga ada kejelasan bahwa
istrinya hamil dari orang yang disuruh mengumpulinnya, maka suami bisa
mengambil kembali istrinya jika jika memang ia menghendaki hal itu. Yang
demikian ini dilakukan, karena dia menghendaki kelahiran seorang anak yang baik
dan pintar. Pernikahan semacam ini disebut nikah istibdha’.
3.
Pernikahan poliandri, yaitu pernikahan beberapa orang laki-laki
yang jumlahnya tidak mencapai sepuluh orang, yang semuanya mengumpuli seorang
wanita.setelah wanita itu hamil dan melahirkan bayinya, maka selang beberapa
hari kemudian dia mengundang semua laki-laki yang berkumpul dengannya, dan
mereka tidak bisa menolaknya hingga berkumpul dihadapannya.dia menunjuk salah
satu dari mereka untuk merawat bayinya.
4.
Sekian banyak laki-laki bisa mendatangi wanita yang
dikehendakinnya, yang juga disebut wanita pelacur. Biasannya mereka memasang
bendera khusus di depan pintunya, sebagai tannda bagi laki-laki yang ingin
mmengumpulinya. Jika jika wanita pelacur ini hamil dan melahirkan anak, dia
bisa mengundang semua laki-laki yang pernah mengumpulinnya. Setelah semua
berkumpul, diadakanlah undian. Siapa yang mendapat undian, maka dia bisa
mengambil anak itu dan mengakuinnya sebagai anaknya. Dia tidak bisa menolak hal
itu.[2]
Berikut ini
adalah contoh beberapa tradisi buruk masyarakat Arab Jahiliyah.
1.
Perjudian atau maisir. Ini merupakan
kebiasaan penduduk di daerah perkotaan di Jazirah Arab, seperti Mekkah, Thaif,
Shan’a, Hijr, Yatsrib, dan Dumat al Jandal.
2.
Minum arak (khamr) dan berfoya-foya.
Meminum arak ini menjadi tradisi di kalangan saudagar, orang-orang kaya, para
pembesar, penyair, dan sastrawan di daerah perkotaan.
3.
Nikah Istibdha’, yaitu jika
istri telah suci dari haidnya, sang suami mencarikan untuknya lelaki dari
kalangan terkemuka, keturunan baik, dan berkedudukan tinggi untuk menggaulinya.
4.
Mengubur anak perempuan hidup-hidup jika
seorang suami mengetahui bahwa anak yang lahir adalah perempuan. Karena mereka
takut terkena aib karena memiliki anak perempuan.
5.
Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan
kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan
mereka alami.
6.
Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita
terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu
berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang
memujinya.
7.
Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik,
atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung.
8.
Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah
di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur.
9.
Fanatisme kabilah atau kaum.
10.
Berperang dan saling bermusuhan untuk merampas
dan menjarah harta benda dari kaum lainnya. Kabilah yang kuat akan menguasai
kabilah yang lemah untuk merampas harta benda mereka.
11.
Orang-orang yang merdeka lebih memilih
berdagang, menunggang kuda, berperang, bersyair, dan saling menyombongkan
keturunan dan harta. Sedang budak-budak mereka diperintah untuk bekerja yang
lebih keras dan sulit.[3]
Banyak kebiasaan yang dilakukan bangsa
jahiliyah, salah satunya adalah berepoligami,tanpa ada batasan maksimal berapa
yang dikehendaki . bahkan mereka bisa menikahi dua wanita yang bersaudara. Mereka juga bisa menikahi janda ayahnya, entah karena dicerai atau
ditinggal mati. hak perceraian ada ditangan laki-laki,tanpa ada batasanya.
Banyak persaingan dalam masalah kehormatan dan perebutan pengaruh
kekuasaan lebih sering menyelimut peperangan antar kabilah yang sebenarnya
berasal dari satu ayah dan ibu, seperti yang kita lihat antara aus dan khazraj,
abs dan dzubyan, bakr dan taghlib serta lain-lainnya.
Secara garis besarnya kondisi social mereka bisa dikatakan lemah
dan buta, kebodohan mewarnai segala aspek kehidupan, kurafat tidak bisa
dilepaskan, manusia hidup layaknya binatang, wanita diperjual belikan dan
kadang-kadang diperlakukan layaknya benda mati. Hubungan ditengah umat sangat
rapuh dan gudang-gudang pemegang kekuasaan dipenuhi kekuasaan yang berasal dari
rakyat, atau sesekali rakyat diperlakukan
untuk menghadang serangan musuh.
B.
KONDISI EKONOMI
Kondisi ekonomi mengikuti
kondisi social yang bisa dilihat dari jalan kehidupan bangsa arab.
Perdagangan merupakan sarana yang paling dominan untuk memenuhi kehidupan
hidup. Jalur-jalur perdagangan tidak
dapat dikuasai begitu saja kecuali jika sanggup mengendali keamanan dan
perdamaian. Sementara kondisi yang aman sementara ini tidak terwujud di jazirah
arab kecuali pada bulan-bulan suci. Pada saat itulah dibuka pasar-pasar arab
yang terkenal, seperti ukazh Dzi-majaz, majinnah dan lain-lain.[4]
Bagi masyarakat pedalaman, yaitu masyarakat Badui, kehidupan social
ekonomi mereka biasanya dilakukan melalui sector pertanian terutama
mereka yang mendiami daerah subur di sekisar Oase. Akan tetapi bagi
masyarakat Arab perkotaan, kehidupan social ekonomi mereka sangat ditentukan
oleh keahlian mereka dalam perdagangan. Oleh Karen itu, bangsa Arab Quraisy
sangat terkenal dalam dunia perdagangan. Mereka melakukan perjalanan dagang dua
musim dalam setahun, yaitu ke Negara Syam pada musim panas dan ke Yaman pada
musim dingin.
Di kota Mekah terdapat pusat perdagangan, yaitu pasar Ukaz, yang
dubuka pada bulan-bulan tertentu, seperti Zulqo’dah, Zulhijjah dan Muharam.
Disamping itu pada bulan-bulan tersebut juga bersamaan dengan pelaksanaan
ibadah haji.[5]
Tentang perindustrian atau kerajinan mereka adalah bangsa yang
paling tidak mengenalnya kebanyakan hasil kerajinan yang ada di arab berasal
dari rakyat yaman, hirah dan pinggiran Syam. Sekalipun begitu ditengah jazirah
ada pertanian dan penggembala hewan ternak, sedangkan wanita-wanita arab
menangani pemintalan. Tetapi kekayaan-kekayaan yang dimiliki bisa mengundang
pecahnya peperangan. Kemiskinan, kelaparan dan orang-orang yang telanjang
merupakan pemandangan yang biasa ditengah masyarakat. [6]
C.
Kondisi Ilmu pengetahuan
Disamping itu,
bangsa Arab sebelum islam juga telah mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini
misalnya dapat dilihat dari berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang di dalam
kehidupan masyarakat Arab pada waktu itu. Di antara ilmu pengetahuan yang
mereka kembangkan adalah astronomi, yang ditemukan oleh orang-orang Babilonia.
Mereka Ini Pindah Ke Negeri Arab pada waktu
Negara mereka diserang oleh bangsa Persia. Dari mereka inilah bangsa
Arab belajar banyak ilmu pengetahuan.
Selain itu
bangsa arab sebelum lahirnya agama islam telah mampu mengembangkan ilmu
meteorology atau ilmu iklim, astrologi atau ilmu perbintangan. Pada awalnya
ilmu ini dipergunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya suatu peristiwa,
seperti perang, damai dan sebagagainya, yang didasarkan pada bintang-bintang.
Ilmu tenung yang banyak disukai masyarakat Arab, berasal dari orang-orang
Kaldam yang bermigrasi ke tanah Arab. Disamping itu masyarakat Arab sebelum
Islam juga telah memiliki pengetahuan tentang cara pengobatan penyakit, yang
disebut AL Thahib. Ilmu ini juga berasal dari orang-orang Kaldam yang kemudian
diambil dan dikembangkan oleh masyarakat Arab.[7]
D.
Kondisi Aklak
Memang kita tidak memungkiri bahwa ditengah kehidupan orang-orang
jahiliyah banyak terdapat hal-hal hina,amoralitas dan masalah-masalah yang
tidak bisa diterima akal sehat dan tidak disukai manusia. Tapi meskipun begitu
mereka masih memiliki akhlak-akhlak yang terpuji, mengundang kekaguman manusia
dan simpati. Diantara akhlak-akhlak itu adalah
1.
Kedermawanan
Mereka saling berlomba-lomba membanggakan diri dalam masalah
kedermawanan dan kemurahan hati. Bahkan separuh syair-syair mereka bisa
dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini. Adakalanya
seseorang didatangi tamuyang kelaparan pada saat hawa dingin menggigit tulang,
sementra saat itu dia tidak memiliki kekayaan apapun selain seekor onta yang
menjadi penopang hidupnya. Namun rasa kedermawanan bisa menggetarkan dirinya,
lalu diapun bangkit menghampiri onta satu-satunya dan menyembelihnya, agar dia
bisa menjamu tamunya. Pengaruh dari
kedermawanan ini, mereka bisa menanggung pembayaran denda yang jumlahnya sangat
tinggi dan membuat pujian dan membanggakan diri dihadapan orang lain dalam
masalah ini, terutama dari kalangan para penguasa dan pemimpin.
2.
Memenuhi Janji
Dimata mereka, janji sama dengan hutang yang harus dibayar. Bahkan
mereka lebih suka membunuh anaknya sendidri dan membakar rumahnya dari pada
meremehkan janji. Kisah tentang Hani’
bin Mas’ud Asy-Ayaibany, As-Samau’al bin Aditiya dan Hajib bin Zararah udah
cukup membuktikan hal ini.
3.
Kemuliaan jiwa dan keengganan menerima kehinaan dan kelaliman
Akibatnya, mereka bersikap berlebih-lebihan dalam masalah
keberainan, sangat pecemburu dan cepat naik darah. Mereka tidak mau mendengar
kata-kata menggambarkan kehinaan dan
suatu keluhuran yang disitu adkemosrotan.
Melainkan mereka bangkit menghunus pedang, lalu pecah peperangan yang berkepanjangan.
Mereka tidak lagi mempedulikan kematian bisa menimpa diri sendiri karena hal
itu.
4.
Pantang Mundur
Jika mereka sudah menginginkan sesuatu yang disitu ada keluhuran
dan kemuliaan, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghadang maupun
mengalihkannya.
5.
Kelemahlembutan dan suka menolong orang lain
Mereka biasa membuat sanjungan tentang hal ini. Hanya saja sifat
ini kurang tampak karena mereka berlebih-lebihan dalam masalah keberanian dan
mudah terseret terhadap peperangan.
6.
Kesederhanaan pola kehidupan badui
Mereka tidak mau dilumuri warna-warni peradaban dan gemerlapnya.
Hasilnya adalah kejujuran, dapat dipercaya, meninggalkan dusta dan
penghianatan.[8]
E.
Kondisi Bahasa dan Seni Sastra
Sekalipun wilayahnya luas, berhauhan wilayahnya dan beragam suku-sukunya,
bahasa tetap satu. Alat untuk saling memahami dan mempertemukan penduduk
jazirah ini, baik yang menetap maupun yang nomaden, baik yang yang Qathaniyah
maupun yang ‘Adnaniyah, adalah bahasa Arab dalam berbagai dialek dan
wilayahnya, yang dituntut oleh watak dan filsafat bahasanya, dan dituntut oleh
ciri local dan cuaca, ciri penyebaran dan perkumpulannya.[9]
Dalam bidang bahasa dan seni sastra,
orang-orang Arab pada masa pra islam sangat maju. Bahasa mereka sangat indah
dan kaya. Syair-syair mereka sangat banyak. Dalam lingkungan mereka seorang
penyair sangat dihormati. Tiap tahun di pasar Ukaz diadakan deklamasi sajak
yang sangat luas.
Khitabah sangat maju, dan inilah satu-satunya alat publisistik yang
amat luas lapangannya. Disamping sebagai penyair, orang-orang arab jahiliyah
juga sangat faasih berpidato dengan bahasa yang indah dan bersemangat. Ahli
pidato mendapat derajat tinggi seperti penyair.
Salah satu kelaziman dalam
masyarakat arab jahiliyah adalah mengadakan majelis atau nadwah sebagai sarana
untuk mendeklamasikan sajak, bertanding pidato, tukar menukar berita dan lain
sebagainya.[10]
F.
Kondis Agama
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa dalam cerita para nabi,
sudah ada beberapa nabi yang diturunkan
di negeri Arab, diantaranya Nabi Ibrahim as. Karena itu sejka awal, ajaran
tauhid sudah tertanam di masyarakat Arab. Dan ajaran Ibrahim as lazim juga
disebut ajaran agama hanif artinya yang benar dan lurus.
Tetapi setelah berjalan
berpuluh-puluh abad, diantaranya Nabi Ibrahim as, ajaran tersebut mengalami
perubahan, diputarbalikkan, ditambah dan dikurangi oleh para pengikutnya yang
tidak bertanggung jawab yang kemudian yang kemudian mencul berbagai ajaran dan
meragukan dan akhirnya jatuh menjadi agama berhala. Pada masa jahiliyah orang Arab
banyak yang menyembah berhala atau patung-patung yang mereka buat dari batu,
kayu da nada juga dari logam.
Bangsa Arab mulai menyembah berhala
ketika ka’bah berada di bawah kekuasaan Juhrum. Pasukan yang dipimpin oleh Amr
bin Lubayi dan keturunan Khuza’ah datang ke mekkah dan berhasil mengalahkan
jurhum. Kemudin Amr bin Lubayi meletakkan sebuah berhala besar bernama HUBAL
yang terbuat dari batu akik merah berbentuk patung orang, yang ditempatkan
disisi Ka’bah. Kemudian ia menyeru kepada penduduk Hijaz supaya menyembah
berhala itu.
Sejak itulah bangsa Arab menyembah
berhala. Ketika bangsa Quraisy berkuasa lagi di Hijaz, di sekeliling Ka’bah sudah penuh dengan berhala yang
berjumlah lebih dari 360 buah. Di samping banyak lagi berhala lainnya, diantaranya
yang penting yaitu:
1.
Lata,
tempatnya di Thaif
2.
Uzza,
tempatnya di Hijaz, kedudukannya sesudah Hubal
3.
Manah, tempatnya di kota Madinah
Dan masih banyak
lagi berhala-berhala yang lainnya seperti: Asaf, Nailah, Wudd, Yaghuts, Suwa,
Ya’ng, Nashr, Manah. Berhala-berhala ini bagi bangsa arab merupakan perantara
kepada Tuhan. Sehingga hakikatnya bukanlah berhala-berhala itu yang mereka
sembah.
Bangsa Arab juga
menganggap bahwa malaikatlah yang menghidupkan, mematikan, dan menguasai segala
gerak kehidupan manusia, bahkan ada yang percaya bahwa malaikat adalah
keturunan Tuhan, karena itulah mereka menyembah malaikat, mereka juga
menganggap bahwa jin, roh, dan hantu adalah katurunan langsung dari malaikat
dan Tuhan. Karena itu mereka mengadakan sesaji pada tempat-tempat yang dianggap
tempat jin, ruh, dan hantu. Dan di sanalah orang-orang menyembahnya. Kecuali
itu ada juga yang menyembah setan atau yang disebut ifrid.
Mereka menyembah
bintang, bulan, matahari, karena mereka menganggap bahwa semua benda-benda alam
tersebut mempunyai kekuasaan untuk menentukan aturan-aturan jalannya seluruh
alam ini.
Pada masa sebelum
islam, orang-orang arab banyak percaya pada tahayul, diantaranya tahayul mereka
itu ialah:
1.
Di
dalam setiap perut orang ada ular, perasaan lapar timbul karena ular menggigit
usus manusia.
2.
Mereka
biasa mengenakan cincin dari tembaga atau besi, dengan keyakinan untuk menambah
kekuatan.
3.
Bila
mengharap turun hujan, mereka mengikat rumput kering pada ekor kambing.[11]
G.
Asal Mula bangsa Arab
Adapun beberapa suku yang tinggal di jazirah
arab,[6] yaitu :
1. Arab Ba’idah
Yaitu
bangsa arab yang telah musnah yaitu, orang-orang arab yang telah lenyap
jejaknya. Jejak mereka tidak dapat diketahui kecuali hanya terdapat dalam
catatan kitab-kitab suci. Arab Ba'idah ini termaksud suku bangsa arab yang dulu
pernah mendiami Mesopotamia akan tetapi, karena serangan raja namrud dan kaum
yang berkuasa di Babylonia, sampai Mesopotamia selatan pada tahun 2000 SM suku
bangsa ini berpencar dan berpisah ke berbagai daerah, di antara kabilah mereka
yang termaksud adalah: 'Aad, Tsamud, Ghasan, Jad.
2. Arab Aribah
Yaitu cikal bakal dari rumpun bangsa Arab yang
ada sekarang ini. Mereka berasal dari keturunan Qhattan yang menetap di tepian
sungai Eufrat kemudian pindah ke Yaman. Suku bangsa arab yang terkenal adalah:
Kahlan dan Himyar. Kerajaan yang terkenal adalah kerajaan Saba' yang berdiri
abad ke-8 SM dan kerajaan Himyar berdiri abad ke-2 SM.
3. Arab Musta'ribah
Yaitu
menjadi arab atau peranakan disebut demikian karena waktu Jurhum dari suku
bangsa Qathan mendiami Mekkah, mereka tinggal bersama nabi Ismail dan ibunya
Siti Hajar. Nabi Ismail yang bukan keturunan Arab, mengawini wanita suku
Jurhum. Arab Musta'ribah sering juga disebut Bani Ismail bin Ibrahim ismail
(Adnaniyyun).[7]
Bangsa Arab mempunyai akar panjang dalam
sejarah, mereka termasuk ras atau rumpun bangsa Caucasoid, dalam Subras
Mediteranian yang anggotanya meliputi wilayah sekitar Laut Tengah, Afrika
Utara, Armenia, Arabiyah dan Irania. Bangsa arab hidup berpindah-pindah, nomad,
karena tanahnya terdiri atas gurun pasir yang kering dan sangat sedikit turun
hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lainnya mengikuti
tumbuhnya stepa (padang rumput) yang tumbuh secara sporadic di tanah arab di
sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Bila dilihat dari
asal-usul keturunan, penduduk jazirah arab dapat dibagi menjadi dua golongan
besar, yaitu: Qathaniyun (keturunan Qathan) dan ‘Adaniyun (keturuan Ismail ibnu
Ibrahim as)[12]
Kesimpulan
1.
Bangsa Arab sebelum datangnya islam mempunyai kebudayaan yang baik
dan buruk yang telah ada ketika bangsa arab mengalami masa kegelapan.
2.
Kebudayaan yang buruk terutama dalam segi Akhlak dan agama, mereke
menyembah berhala, sering melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah
diantaranya minum-minuman keras, berjudi, membunuh anak perempuan yang baru
lahir, merendahkan harkat martabat wanita. Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan
kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan
mereka alami. Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita
terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu
berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang
memujinya. Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik,
atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung. Prostitusi.
Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan
bahwa wanita itu adalah pelacur. Fanatisme
kabilah atau kaum dan masih banyak lagi.
3.
Tapi dari semua
keburukan tersebut masih ada hal yang baik dari bangsa Arab pada saat itu
diantaranya: juga berkembangasa ilmu pengetahuan dalam bidang astronomi atau
perbintangan, dalam bidang dagang, dan adanya kebiasaan masyarakat yang melekat
yaitu rasa solidaritas diantara sesame klan atau suku, dermawan, pantang mundur
jika menhadapi sesuatu dan lai-lain.
Daftar pustaka
Hasan, Abul. 2008. Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW.
Yogyakarta: Mardhiyah Press.
Musyawarah guru PAI. 2008. Modul Hikmah Membina Kreatifitas dan
Prestasi. Akik Pustaka
Syaikh Shafiyyurahman. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta:
PUSTAKA AL-KAUTSAR
Yatim, Badri. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT
Raja Grafindo Persada
Imron Fauzi. Sumber: www.mahluktermulia.wordpress.com.
[1] Yatim,
Badri. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Hlm 11
[2] Syaikh
Shafiyyurahman. 2007. Sirah Nabawiyah. Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR.hlm
59-60
[3] Imron
Fauzi. Sumber: www.mahluktermulia.wordpress.com
[4] Syaikh
Shafiyyurahman. 2007. … hlm.62
[5]
Musyawarah guru PAI. 2008. … hlm 4-5
[6]
Syaikh Shafiyyurahman. 2007…. Hlm 62
[7] Musyawarah
guru PAI. 2008. … hlm 4
[8] Syaikh
Shafiyyurahman. 2007…. Hlm 63-64
[9]
Abul Hasan. 2008. Sejarah Lengkap Nabi Muhammad SAW. Yogyakarta:
Mardhiyah Press. Hlm 59
[10]
Musyawarah guru PAI. 2008. … hlm 5
[11]Musyawarah
guru PAI. 2008. … hlm 4-5
[12]
http://www.taqrib.info/indonesia/ sejarah..
No comments:
Post a Comment